241010


Sabtu sore itu, 23 Oktober 2010 saya ke Jogja, berniat untuk bezuk Bapak, karena saya sudah absen minggu yang lalu. Hari Minggu yang lalu saya pulang ke Wonosobo untuk melepas kepergian Ibu ke tanah suci. Berangkat dari Semarang sudah sore dan sepanjang perjalanan hujan. Sampai di Jogja selepas Maghrib, sebelumnya saya sudah menghubungi adik saya untuk menjemput di terminal Jombor. Tak lama saya menunggu, beberapa saat kemudian adik saya datang dan saat itu masih sedikit gerimis.

Sampai di rumah kakak saya (kebetulan Bapak sudah membaik dan sudah pulang kerumah salah seorang kakak saya di Jogja), saya tidak sempat mengobrol dengan Bapak, hanya jabat tangan & cium pipi kanan kiri seperti biasa. Lalu saya pun terlelap…., Bapak juga begitu.

Menjelang tengah malam, saya terjaga dan beberapa kali melihat Bapak juga terbangun dan menanyakan jam kepada adik saya, yang selalu siap siaga.

Ahad pagi, Bapak sudah wungu1 dan telah menunaikan sholat subuh walau hanya dengan tayamum wudlunya dan dengan tiduran sholatnya. Saya pun segera bangun.
Sekitar jam 05.30 an Bapak ingin sarapan bubur sumsum dan kebetulan juga makan yang biasa disiapkan oleh kakak ipar saya belum siap. Beruntung rumah kakak saya dekat dengan pasar, jadi saya tidak harus pergi jauh untuk membeli bubur. Saya pun segera pergi ke pasar untuk membeli bubur sumsum. Karena belum pernah masuk ke pasar tersebut  sedikit bingung juga, setelah bertanya sampai dua kali akhirnya ketemu juga…

Bapak pun dengan lahap dhahar2 bubur sumsum tersebut. Tidak lama kemudian bubur yang dibuatkan kakak ipar saya juga datang, tetapi Bapak belum kersa3 dhahar lagi.

            Setelah sarapan bubur sumsun & sedikit bubur yang dibuatkan kakak saya, Bapak meminta saya untuk menghubungi salah seorang adik sepupunya untuk datang. Kemudian adik saya yang menelphon dan adik sepupu Bapak akan datang nanti sekitar jam 11 siang.

Sekitar jam 11 siang itu, adik sepupu Bapak datang beserta keponakan Bapak. Baru saja datang, Bapak langsung minta maaf dan berpesan kalau nanti tiada, tolong dimakamkan di Tompeyan yaitu sebuah kampung di Jogja dimana Bapak pernah tinggal dan banyak saudara dari Bapak yang tinggal disana. Di Tompeyan tersebut juga terdapat makam dimana kedua orang tua Bapak atau kakek dan nenek dari Bapak dimakamkan.
(Hmmm…..jadi mengingatkan saya yang dulu bersama kedua adik saya selalu diajak ke Jogja oleh Bapak & Ibu walau hanya untuk ziarah ke makam dan silaturahim ketempat keluarga Bapak, tidak sering sih.... paling setahun sekali. Pernah juga diajak lihat sekaten atau ke kebun binatang atau ke museum Diponegoro…..so miss those time…..)
Saya sempat  menjawab permintaan Bapak tersebut: “Bapak, pesarean Tompeyan punika sampun penuh. Mboten wonten tempat ingkang sela”4.
Bulik saya hanya mengiyakan sambil mengedip-edipkan mata kepada saya, sebagai tanda bahwa saya harus mengiyakan saja permintaan Bapak tersebut. Dalam hati saya, kok sama ya ucapan Bapak ketika Ibu bezuk bersama saya dulu itu ya…. Tetapi saya tetap harus optimis bahwa Bapak akan segera membaik….

Di luar hujan, Bapak pun sesekali memejamkan mata, tetapi dalam tidurnya tidak pernah jenak seperti semalam, sesekali terbangun dan terbangun. Keponakan saya Nadia yang belum genap 2 tahun umurnya itu, beberapa kali terlihat masuk ke kamar tempat Bapak berbaring, hanya untuk bersalaman dan mengucapkan da…dah….da….dah….(sambil tangannya melambaikan kepada Bapak). Karena belum jelas pengucapannya Nadia hanya bilang : “Embah, salim….” Setelah berjabat tangan lalu keluar dan melambaikan tangannya, “Da…dah embah…..da…dah embah…”.

Sekitar jam 1 siang, Bulik saya pamitan untuk pulang. Tidak lama kemudian ada travel datang mengantarkan kursi roda dari Oom saya yang ada di Wonosobo, selang beberapa menit kemudian petugas oksigen datang juga, karena persediaan oksigen yang dipakai Bapak masih ada sisa, maka tidak jadi mengganti hanya meninggalkan 1 tabung oksigen untuk persediaan.

Sekitar jam 2 siang, hujan mulai reda, karena takut besok pagi-pagi sekali tidak ada yang mengantar saya ke terminal,  maka saya memutuskan untuk pamit pulang ke Semarang. Sayapun pamit kepada Bapak, Bapak hanya bilang, iya kamu pulang saja…..(tetapi hati ini terasa berat…..).

Dengan berat saya tinggalkan rumah yang ditempati Bapak, hujan pun semakin deras (ternyata Merapi saat itu pun mulai bergemuruh….) dan bus yang saya tunggu pun tidak kunjung datang….
Hampir 30 menit saya menunggu, akhirnya dapat juga bus kearah kota Jogja dan saya turun di jalan lingkar barat  Jogja untuk menyambung dengan bus arah Semarang.  Sekitar jam 15.30 lebih saya baru dapat bus, tetapi saya pulang dengan perasaan hampa, seperti ada sesuatu, saya tidak tahu itu…..

            Sampai di Semarang sudah malam. Sesampai di kos, setelah membersihkan diri saya langsung terlelap tidur, dan kebetulan telepon selular saya juga batrenya habis, jadi saya matikan semua. Sekitar jam 11 malam saya terbangun dari tidur,  hape saya nyalakan satu persatu. Tiba-tiba adik  saya yang perempuan telephon, sepertinya tidak ingin menangis, tetapi tetap saja tangisnya terdengar,
“Nung, kamu masih disana kan, dari tadi saya telepon kok tidak bisa?”,
dipikir adik saya, saya masih di Jogja, menunggu Bapak, karena memang tidak biasanya saya pulang ke kos Minggu sore.  Adik saya melanjutkan,
 ” Nung, Bapak tidak ada…..”
“ Innalillahi wa inna illaihi rojiun….” , hanya kata itu yang bisa terucap dari saya, mengapa tadi saya pulang……, diseberang sana adik saya masih dengan suara berat berbicara, tetapi saya sudah tidak konsentrasi mendengar, hanya kata-kata, “Jangan  malam ini kamu pulang, tunggu besok pagi saja….”
“Iya….,” jawab saya.
“Inung sudah di Semarang dan tadi hape mati, dari sana tadi langsung tidur”, lanjut saya.

Telephon dari adik saya mati, saya sudah tidak dapat melanjutkan tidur lagi……tetapi saya masih kuat berdoa dan bersujud untuk Bapak kepada Sang Pencipta.


Catatan kaki:
  1. Wungu dalam bahasa Indonesia artinya bangun.
  2. Dhahar = makan
  3. Kersa = mau
  4. Pesarean Tompeyan punika sampun penuh. Mboten wonten tempat ingkang sela = Makam di Tompeyan sudah penuh. Sudah tidak ada lagi tempat yang kosong.


Semarang, 24 Oktober 2011
Mengenang 1 tahun meninggalnya Bapak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matur Sembah Nuwun Gusti

Berburu Sunrise Di Lereng Gunung Ungaran

Kofinary Espresso Bar, Tidak Sekedar Ngopi