Laseman, Mengenal Lebih Jauh Seni dan Budaya Masyarakat Lasem

Photo courtesy of www.laseman.com
Dear Blogger,

Tahukah teman-teman tentang Lasem? Tentu banyak dari teman-teman yang telah mengenal Lasem. Mengenal dari batiknya yang sangat khas, dari budayanya ataupun dari buah yang mudah ditemukan di Lasem tetapi sangat jarang ditemukan ditempat lain, yaitu buah Kawis atau Kawista. Penasaran dengan buah Kawis? Yukss datang langsung ke Lasem ;)


Lasem merupakan Kota Kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lasem dikenal juga sebagai "Tiongkok kecil" karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa pada abad ke-12 hingga 15. Selain Semarang, Lasem juga merupakan tempat bersinggahnya pasukan Laksamana Cheng Ho yang kemudian ada yang menetap terutama di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Di Lasem ini juga terdapat perkampungan China pada masa Kerajaan Majapahit yaitu dibuktikan dengan banyaknya bangunan-bangunan tua khas Tiongkok dan kelenteng tua. 

Selain sebagai Tiongkok kecil, Lasem juga dikenal sebagai Kota Santri. Banyak peninggalan pesantren-pesantren tua juga ulama-ulama kharismatik berasal dari Lasem. Sebagai Kota Batik, Lasem dikenal karena mempunyai batik klasik dengan pola dan corak yang sangat khas. Paduan warna yang berani dan mencolok dengan aneka macam motif menjadi ciri khas Batik Laseman yang dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya Tiongkok. Dari sini dapat dilihat betapa mereka etnis Tionghoa, santri dan warga setempat hidup berdampingan secara damai. Memang sepantasnyalah tidak ada yang saling menyakiti, tetapi saling menghargai itu yang utama. #IniBaruIndonesia 

Karena hal-hal yang menarik itulah Forum Komunikasi Masyarakat Pecinta Sejarah dan beberapa seniman di Jawa Tengah mengadakan pagelaran kesenian yang dikolaborasikan dengan unsur-unsur yang ada di Lasem. Muncullah Laseman, yang merupakan pagelaran lintas genre, lintas ras dan lintas generasi bertajuk "Alon-alon Waton Ke Lasem". Acara akan berlangsung pada tanggal 28 29 November 2015 di Desa Karangturi, salah satu desa di Kecamatan Lasem yang terdapat banyak bangunan lama yang masih terawat dengan baik. 

Photo courtesy of www.laseman.com

Menurut Nada Goeltom, Direktur Pagelaran Laseman 2015, Laseman itu otentik. Berbeda dengan festival desa yang diadakan di kota-kota lain. Laseman menggandeng perbagai elemen masyarakat untuk turut ambil bagian dan saling berkolaborasi.

Laseman akan dibuka pada Sabtu, 28 November pukul 13.00 dan akan berakhir pada MInggu, 29 November 2015 pukul 17.00 WIB. Akan ada 3 panggung pagelaran pada acara itu, yaitu panggung Perang Lasem, Batik Tulis dan Kauman. Penamaan panggung tak lepas dari sejarah kota Lasem itu sendiri.

Elemen-elemen masyarakat yang akan tampil adalah beberapa band Indie dari Rembang dan kesenian tradisional seperti Barongan, Jedoran, Reyog Kendang, Tari Orek-Orek, Wayang Bengkong serta Laesan Lasem. Pada Sabtu malam akan ada dialog budaya yang dibuka dengan Tari Sufi dan diiringi grup musik asal Semarang, AbsurdNation. Dialog akan menghadirkan Budayawan dari NPati yaitu Anis Sholeh Ba'asyin, Kiai Budi Harjono dari Semarang dan Sudjiwo Tedjo, presiden Republik Jancukers.

Di hari kedua, pada pagi hari akan ada karnaval Batik Swiwi yang melibatkan ratusan pelajar SMP-MTS serta SMA - MA di Lasem dan diiringi oleh Marchinng Band dari SD Sumbergirang 1 dan MI An-Nasriyah. Di panggung pagelaran juga akan tampil beberapa musisi dari Semarang, Kudus juga Rembang dan beberapa kesenian tradisional. 

Photo courtesy of www.laseman.com

Di Laseman ini juga terdapat stand pameran seperti stand batik dan clothing Rembang. Beberapa komunitas yang ada di Rembang juga turut berpartisipasi dalam acara ini.

Laseman memang baru pertama kali diadakan, berharap bahwa masyarakat akan mengenal kembali, manjaga dan memberi apresiasi pada kesenian yang ada. Semoga acara ini menjadi tonggak bahwa akulturasi budaya yang ada patut dilestarikan, aset-aset sejarah di Lasem patut diselamatkan. 

Sampai jumpa di Lasem akhir pekan ini.


Semarang, 26 November 2015
Warm Regards,
Inung




Komentar

  1. Balasan
    1. hehehe....matur tengkyuuu dek Sov :*

      Hapus
  2. Wahhh yang seperti ini nih yang seharusnya dimunculkan lagi di permukaan, semoga saja acaranya sukses dan terus ada di tahun-tahun berikutnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah acara lancar....pengunjung juga sangat antusias. Semoga tahun depan ada lagi ya mas Yoggy

      Hapus
  3. Aku gagal berangkat ke laseman nih mbak, malah ikutan funwalk di Yogya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga owk mbak...takut sendirian , xixixi

      Hapus
  4. Keren acaranya...
    batik lasem cantik ya,, pernah punya tmn yg mbatik di lasem ^^

    BalasHapus
  5. Berarti rata2 daerah pantura memang memiliki keragaman budaya karena pengaruh Tiongkok ya Nung, Semarang juga gitu kan ya, banyak etnis Tiongkok beserta bangunan2 khas mereka ada di kota ini, hidup berdampingan secara damai dengan penduduk pribumi. Semoga Laseman ini sukses acara dan misinya :)

    BalasHapus
  6. Wah inii yang belum aku tau. Perlu banyak belajar tentang kebudayaan iki. Bikin penasaran

    BalasHapus
  7. Swiwi itu sayap kan, ya? Batiknya motif sayap berarti, Mbak?

    Belum pernah ke Lasem dan pingiiin bgtt

    BalasHapus
  8. Batik Lasem cakep.
    Daerah pantura memang banyak dipengaruhi oleh budaya China ya.

    Salam,
    http://alrisblog.wordpress.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matur Sembah Nuwun Gusti

Berburu Sunrise Di Lereng Gunung Ungaran

Kofinary Espresso Bar, Tidak Sekedar Ngopi